Warga Desa Lubuk Napal Minta DPRD Riau Panggil Dewi Robinar

Pekanbaru, cakralink.com – Kamis, (17/6/22) warga Lubuk Napal kembali datangi tanah sengketa yang diakui oleh Dewi Robinar sebagai hak miliknya seluas 250 Ha yang berada di Desa Teluk Aur Kecamatan Rambah Samo.

Ratusan warga yang mendatangi tanah sengketa ini merasa sangat kecewa karena ketidakhadiran Dewi Robinar ke tempat mereka setelah diundang secara baik-baik pada Senin (13/6) 22) oleh Ketua KTTR dan Datuk Panglima Hulubalang Rohul Alirman dihadapan para petugas kepolisian, TNI, Camat, Lembaga Kerapatan Adat (LKA) Rambah Samo.

iklan

Datuk Panglima Hulubalang Rohul Alirman menyampaikan kekecewaan nya terhadap sikap Dewi Robinar yang tidak mengindahkan undangan tokoh masyarakat adat Desa Lubuk Napal agar tidak terjadi masalah yang berkepanjangan ke depannya.

“Saya sebagai Datuk Panglima Hulubalang Rohul sangat kecewa atas sikap yang diambil oleh Dewi, tak dapat menemui kami tanpa alasan yang jelas”, kata Datuk Alirman.

“Kami juga berupaya untuk membawa hal ini ke DPRD Rohul agar dapat memanggil Dewi datang menemui kami disini dalam waktu dekat”, imbuhnya.

Awak media Jumat (17/6/22) berupaya mendatangi Dewi Robinar ke rumah nya di Jalan Tambelan No.21 Pekanbaru untuk mendapatkan keterangan alasan ketidakhadiranya ke Desa Lubuk Napal untuk penuhi undangan warga.

Disampaikan oleh Dewi Robinar kepada awak media bahwa Pengadilan Tinggi Riau membatalkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Pasir Pengaraian nomor 264/Pdt.G/2021/PN. Prp terkait perkara penguasaan lahan seluas 250 hektare yang dikuasai oleh pihak Dewi Robinar. Putusan banding tersebut sudah keluar per 7 Juni 2022 dengan putusan nomor 81/PDT/2022/PT.PBR.

“Kami melakukan banding, dan tanggal 7 Juni 2022, Alhamdulillah Pengadilan Tinggi Riau mengabulkan permohonan banding yang diajukan oleh kami selaku tergugat. Pengadilan Tinggi Riau juga membatalkan putusan Pengadilan Negeri Pasir Pangaraian nomor 264/Pdt.G/2021/PN Prp tanggal 9 Maret 2022,” kata Dewi, Kamis (16/6/2022).

Dewi menceritakan, ia digugat oleh Koperasi Tani Timiangan Raya (KTTR) dengan dugaan menyerobot tanah di kebun Surau Gading, Desa Teluk Aur seluas 250 hektare.

Padahal kata Dewi, tanah itu ia dapati berdasarkan ganti rugi dari masyarakat setempat dan sudah berusaha di sana secara damai selama lebih dari 18 tahun. Tidak hanya berusaha, tetapi juga ikut berkontribusi dalam perawatan fasilitas vital masyarakat seperti jalan poros dan pembangunan jembatan.

Ia juga mengungkapkan bahwa KTTR bersama suatu lembaga masyarakat berusaha untuk menghentikan kegiatan di kebun yang dikuasai oleh Dewi hingga saat ini.

“Mereka saat ini meminta kami untuk menghentikan kegiatan, tapi kan yang bisa menghentikan hanya polisi dan pengadilan,” tukasnya.

“Saya mengajukan banding dan sudah diputuskan tanggal 7 Juni oleh Pengadilan Tinggi Riau bahwa mengabulkan permohonan tergugat untuk banding dan membatalkan semua putusan PN Pasir Pangaraian nomor 264/Pdt.G/2021/PN. Prp dan menolak seluruh gugatan KTTR sebagai penggugat,” tutup Dewi.

 

Laporan : nita hasanjaya

iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Kirim Pesan
Terima kasih atas kunjungnya pada website kami.